Surau | Cerpen Artie Ahmad

Matanya yang tua seakan meneropong, mengamati surau di hadapannya dengan tatapan saksama. Surau yang terlihat tua, kuno, tetapi belum kehilangan gairahnya dalam menampung doa-doa. Semakin tua, surau yang sudah berdiri selama puluhan tahun itu masih terlihat kokoh, belum ringkih sama sekali. Meski beberapa bagian lantai papannya ada yang menganga. Tikar pandan untuk alas surau tampak masih mengilap. Tangga dan penyangga dari kayu jati terlihat semakin berwibawa seiring bertambahnya usia surau. Surau yang masih bersetia tegak di depan rumahnya, meski zaman selalu berubah. Meski surau itu kini tak seramai dulu lagi.


Namun, gelombang perasaan yang mengganggu itu selalu datang menyapa hati Wak Haji akhir-akhir ini. Tiga kemenakannya mengusulkan agar surau itu dipugar, diganti dengan mushala baru yang lebih modern. Kuncup surau dari papan yang berukir, seharusnyalah sudah digantikan dengan kubah berwarna biru cerah. Lantai papan yang ongak di beberapa bagian, sudah semestinya berganti dengan lantai keramik berwarna putih bersih. Lalu surau dengan model rumah panggung seperti itu, sudah ketinggalan zaman.

Maka, atas pemikiran mereka yang memiliki uang berlebih itu, surau akan diruntuhkan, digantikan mushala baru.

“Nanti para pekerja biar aku yang urus. Mereka para tukang yang aku pekerjakan selalu giat. Pekerjaan merenovasi surau itu tentu akan cepat selesai.” Ujar Makmun, kemenakan tertua Wak Haji. Dia bekerja di kontruksi bangunan, sebagai mandor.

“Nah, benar itu. Untuk material bangunan, biar aku dan Kang Muis yang urus,” timpal Misbah, kemenakan termuda Wak Haji.

Wak Haji terdiam sebentar, sebelum dia berujar.

“Sebaiknya, tak perlulah surau itu dipugar. Bangunannya masih bagus, belum ada yang perlu benar-benar diperbaiki.”

“Wak, seharusnya Wak tahu, surau itu bukan lagi sekadar milik Wak seorang.

Melainkan sudah menjadi milik banyak orang. Sebentar lagi puasa Ramadhan tiba, Wak. Tentulah surau itu harus bersolek, agar yang tadarus dan shalat nanti semakin bersemangat!” Muis menatap uwaknya sungguh-sungguh.

“Tapi, yang datang ke surau kita ini tak seramai dulu. Masjid besar di ujung kampung itu sudah cukup luas menampung mereka.”

“Wak, masalahnya surau kita sepi ya, menurutku karena keadaannya yang seperti sekarang. Bunyi kerat-kerat lantai kayu ini sungguh mengganggu kekhusyukan mereka yang sembahyang di sini,” sambung Muis santai.

“Kekhusyukan dalam bersembahyang bukan didasari di mana kita bersembahyang, Muis. Apalah artinya nanti jika surau tua ini digantikan mushala baru yang jauh lebih kokoh, tetapi tetap senyap dari doa-doa untuk Gusti Allah,” jawab Wak Haji sendu.

Namun, di akhir diskusi dengan ketiga kemenakannya, Wak Haji terpaksa menerima keputusan bahwa surau yang dia dirikan berpuluh tahun lalu itu akan dipugar. Surau dari papan akan digantikan tembok semen yang kokoh. Meski setelahnya, Wak Haji merasakan ada kekosongan di hatinya.

*****

Wak Haji lari terbirit-birit ketika mendengar suara mesin gergaji meraung-raung. Muis yang berbadan tegap sedang bersiap menggergaji pohon duku di samping surau.

“Mau kau apakan pohon duku itu, Muis?” Wak Haji berdiri bingung.

“Mau ditebang, Wak!” teriak Muis di tengah gemuruhnya suara bising gergaji mesin.

“Apa? Tebang? Tak salah kau, Muis? Mengapa lagi pohon duku itu kau tebang?”

“Untuk tempat parkir, Wak. Nanti kalau surau, ah, mushala baru sudah jadi, tentulah banyak yang datang bersembahyang di sini. Tentu kalau sudah seperti itu, kita perlu tempat parkir bukan?” Muis mematikan gergaji mesin yang sedang dia bopong.

“Keterlaluan kau, Muis. Aku memperbolehkan kau dan adik-adikmu merombak surau ini, tapi tak perlu juga kau robohkan pohon duku ini,” sahut Wak Haji dingin.

Muis menghela napas panjang. Ditatapnya wajah uwaknya sungguh-sungguh. Sejak kecil, waknya yang membesarkan dia dan kedua saudaranya. Wak Haji tak memiliki seorang anak pun. Kesepiannya ditutup dengan merawat tiga kemenakannya. Bagi Muis dan adik-adiknya, saat inilah dia membalas kebaikan sang wak. Merombak surau, menjadi mushala baru agar lebih hidup.

“Jadi untuk pohon duku ini uwak keberatan?” tanya Muis sekali lagi.

“Tentu saja. Kita tak perlu lahan parkir yang terlalu luas. Biarkan pohon duku ini tetap seperti semula,” ujar Wak Haji sembari kembali masuk ke dalam.

Kemarahannya tiba-tiba berkobar. Siapa yang menyangka jika dirombaknya surau akan merembet ke mana-mana. Wak Haji memejamkan mata. Disebutnya asma Allah berulang kali. Suara gergaji mesin yang bising tak terdengar lagi, tapi lamat-lamat dia masih mendengar suara Muis yang berbincang-bincang dengan seseorang di luar.

Surau yang dia dirikan benar-benar dipugar. Satu per satu papan dilepas, ditumpuk begitu saja di bawah pohon duku yang tak jadi ditebang. Tikar pandan digulung, Makmun menaruh gulungan tikar pandan itu di ruang tengah. Di tempat biasa Wak Haji menonton televisi. Tikar pandan itu tak diperlukan, mushala yang baru nanti akan menggunakan karpet baru yang jauh lebih lembut.

Wak Haji menatap gulungan tikar pandan itu dengan nanar. Tikar pandan itu yang menganyam almarhumah istrinya, Siti Nafsiah. Istri yang sangat disayanginya, yang meninggalkan dirinya lima tahun yang lalu. Bulir air mata Wak Haji mengalir perlahan. Bibirnya berbisik perlahan.

“Siti Nafsiah, istriku. Tikar hasil keterampilan tanganmu ini nantinya akan digantikan karpet baru.”

*****

Surau yang lama telah berganti menjadi mushala baru yang lebih modern. Kubah yang tak terlalu besar, tetapi berwarna biru cerah menambah kesan semarak. Empat pelantang suara dipasang menghadap ke empat penjuru.

“Nanti suara uwak akan menggema ke seluruh desa. Tak kalah dengan dengan suara dari masjid besar di ujung desa itu, Wak,” ujar Misbah bergurau saat waknya menanyakan apa gunanya memasang pelantang suara sampai empat buah.

Semuanya dirasakan Wak Haji dengan keterasingan yang tak bisa diungkapkan.

Dinginnya dinding dan lantai mushala tak pernah dia kenal sebelumnya. Suaranya yang menggema dari pelantang suara mushala baru terdengar asing di telinganya sendiri. Suara azan yang dia kumandangkan senantiasa berbaur dengan suara azan dari masjid besar di pinggir desa.

Awal mula mushala itu jadi, jamaah yang bersembahyang di sana cukup semarak.

Namun, tak lama kemudian, mushala Wak Haji sepi lagi. Tapi, bukan sepinya mushala baru yang membuat hati Wak Haji sedih. Dalam diamnya dia selalu merindukan suraunya yang lama. Surau dari papan, yang beralas tikar pandan.

Dulu dia membangun surau itu sedikit demi sedikit. Kayu-kayu yang kemudian menjadi bagian utuh surau dikumpulkannya sendiri. Wak Haji sendiri yang merancang surau panggung. Ukiran di atas atap, dia sendiri yang membuatnya. Kini surau yang dulu selalu ramai dengan anak-anak yang belajar mengaji, berganti menjadi mushala baru yang senyap.

Subuh belum benar-benar datang ketika Wak Haji membuka pintu mushala perlahan. Keadaan senyap, tak ada seorang pun di dalamnya. Meraba dalam gelap, Wak Haji mencari panel saklar lampu neon. Seperti yang dia perkirakan sebelumnya, tak akan ada banyak yang berubah. Meski sudah dipugar menjadi mushola yang baru, tetap saja hanya dia seorang yang setia mengulum doa-doa di sana.

Gusti Allah tak terlalu mempersoalkan di mana para hamba-Nya bersembahyang.

Yang terpenting dari semuanya adalah kekhusyukan yang ikhlas. Surau yang lama sesungguhnya tak menjadi soal, tapi bagaimana Wak Haji menolak mushala yang baru ini jika dipugarnya surau adalah bukti kasih dari kemenakan-kemenakan yang telah dibesarkannya. Tapi, seringnya memang begitu, balasan kebaikan terkadang luput dari apa yang diinginkan.

Wak Haji hanya duduk tepekur. Dia enggan mengambil mikrofon yang akan menyalurkan suaranya ke pelantang suara. Suara muazin masjid besar di pinggir desa sudah terdengar. Tapi, Wak Haji tak juga meraih mikrofon mushala baru miliknya. Dia beranjak, ke tempat wudhu. Setelahnya dia bersembahyang.

Lepas mengucapkan salam terakhir, Wak Haji merasakan ada yang menghentak dadanya. Napasnya tersengal. Dia jatuh di atas karpet sajadah baru yang terbentang di atas lantai mushala. Kedua matanya yang mulai kabur menangkap satu sosok yang berdiri di pintu mushala.

“Siti Nafsiah…,” erang Wak Haji perlahan.

Namun, bayangan almarhumah istrinya semakin lama semakin kabur lalu menghilang. Dari bibirnya yang bergetar menahan sakit, Wak Haji hanya mampu berucap perlahan, Allah, Allah, Allah…

Sebelum akhirnya matanya tertutup, bibirnya berhenti bergetar.

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga, Jawa Tengah. Saat ini bekerja sebagai seorang karyawati swasta.

Robot Idaman | Cerpen Lish Adnan


Danu ingin sekali memiliki robot-robotan. Teman-teman di sekolahnya banyak yang sudah mempunyai. Hampir setiap jam istirahat, mereka membicarakan soal robot miliknya yang hebat.

Siang ini, mereka sudah janjian akan ke rumah Andi untuk bermain robot-robotan. Danu yang tidak memiliki robot menjadi sedih. Tapi dia tetap akan datang ke rumah Andi.

Setelah makan siang di rumah, Danu pamit kepada Ibu untuk ke rumah Andi.

Rumah Andi sudah ramai oleh anak-anak. Ternyata tidak hanya anak laki-laki, ada anak perempuan juga. Tapi anak perempuan tidak membawa robot. Mereka hanya ingin menyaksikan para robot beraksi seperti halnya Danu.

Ciuuu… Ciuuu… Drottotototot….


Fire, fire…


Suara robot di halaman rumah Andi terdengar ramai sekali. Anak-anak berkerumun melihat aksi para robot. Danu melongo saat melihat robot milik Andi beraksi.

“Koda siap bertugas,” suara robot milik Andi yang bernama Koda. Usai mengeluarkan kata-kata seperti itu, robot tersebut memberi hormat lalu mulai berjalan dan mengeluarkan bunyi tembakan.

“Wah keren sekali robot milikmu, Andi,” komentar Reza.

“Iya, ia bahkan bisa berbicara,” kata Danu.

Anak-anak yang lain juga dibuat takjub dengan robot milik Andi. Robot itu bisa berjalan ke segala arah. Saat ada benda di depannya, robot tersebut bisa berputar sendiri mencari jalan lain.

******

Di rumah, Danu terus teringat dengan robot Andi.

“Ibu, Danu minta belikan robot-robotan dong! teman-teman Danu sudah punya,” pinta Danu.

“Kamu main pakai robot yang dulu saja, ya!” balas Ibu.

“Tapi, Bu, robot Danu yang dulu kan nggak bisa bergerak sendiri. Kalau yang sekarang lagi ngetren itu robot yang bisa berjalan sendiri, bisa mengeluarkan suara juga, Bu. Danu nggak mau main robot yang dulu. Belikan ya, Bu. Masa cuma Danu yang nggak punya,” rengek Danu.

“Uang Ibu nggak cukup buat beli robot seperti itu, Danu,” jawab Ibu sembari menyetrika pakaian.

“Ibu kamu benar, Danu. Lagi pula, mainan seperti itu biasanya kan musiman. Nanti ada lagi mobil-mobilan terbaru, kamu minta beli lagi. Sayang uangnya,” ujar Bapak yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Danu dan ibu.

“Kenapa sih, Bapak nggak kerja di kantor saja? Jadi kan punya uang yang banyak,” ucap Danu.

“Bekerja itu yang penting halal. Bekerja sebagai tukang servis lebih baik daripada Bapak nggak punya pekerjaan?” ucap Bapak terkekeh.

Bapak memang orang yang sabar. Tapi tidak dengan Danu. Dia malah manyun mendengar jawaban Bapak dan segera pergi ke kamarnya.

*****

Gara-gara tidak dibelikan robot, Danu ngambek. Ia jadi jarang berbicara dengan ibu dan bapak.

Setelah dua hari ngambek, Danu tak tahan juga. Dia akhirnya meminta maaf.

“Sudah capai ngambeknya?” ledek Bapak.

“Hehee… ngambek itu nggak enak, Pak,” balas Danu.

“Jadi kamu sudah melupakan mainan robot itu?” tanya Ibu.

Danu menggeleng dengan cepat sambil tersenyum.

“Danu akan menabung. Kata Bu Guru, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Jadi, sebagian uang saku Danu akan ditabung. Nanti kalau sudah satu bulan, uangnya buat beli mainan robot yang keren,” jelas Danu dengan semangat.

Ibu dan Bapak mendukung Danu untuk menabung.

Sebelum berangkat sekolah, Danu memasukkan setengah dari uang sakunya ke dalam celengan. Dia takut kalau sudah dibawa ke sekolah akan dipakai untuk jajan.

Dua minggu sudah Danu menabung. Dia tidak jajan banyak di sekolah. Akibatnya, Danu cepat merasa lapar. Dia langsung makan setelah pulang sekolah.

Siang itu, saat Danu sedang menonton TV, Bapak pulang dan duduk di samping Danu.

“Danu, ini buat kamu!” kata Bapak sambil memberikan sebuah kantong plastik kepada Danu. Bapak tersenyum ceria saat memberikannya.

“Ini apa, Pak?” tanya Danu penasaran.

“Buka saja!” kata Bapak.

Danu bertanya-tanya apa sebenarnya isi dari kantong plastik yang diberikan Bapak. Seperti ada kotak di dalamnya. Jarang sekali Bapak memberikan sesuatu seperti itu. Padahal hari itu juga bukan ulang tahunnya.

“Woah, Pak, ini robot-robotan buat Danu?” teriak Danu kegirangan.

“Iya, itu buat kamu.”

“Terima kasih ya, Pak. Danu senang sekali. Ini bahkan ada remot kontrolnya. Keren sekali!” ucap Danu sembari mengamati robot yang berada di tangannya.

“Iya. Bapak juga bahagia bisa memberikanmu mainan seperti itu,” ucap Bapak dengan mata berkaca-kaca.

Ibu datang menghampiri. Rupanya Ibu sudah tahu perihal robot itu.

“Ada yang memberikan robot itu pada Bapak sewaktu membetulkan radio miliknya. Katanya robot-robotan itu milik anaknya yang sudah SMA. Robot itu juga sudah rusak. Bapak coba membetulkannya dan ternyata bisa,” cerita Bapak panjang lebar.

“Danu senang sekali, Pak. Maafkan Danu karena pernah merendahkan pekerjaan Bapak sebagai tukang servis barang elektronik,” kata Danu sambil memeluk Bapak.

“Bapakmu itu memang hebat. Kamu juga hebat karena mau menabung,” ucap Ibu bahagia.

Danu bahagia sekali. Robot idaman sudah berada di tangannya. Uang yang sudah ditabung selama ini akan dia simpan untuk keperluan lain.

Saat Hujan Turun | Cerpen Pelangi Pagi


Ika mengeluh waktu melihat layar hp, hampir pukul dua belas. Kesal sudah jelas. Dari pukul sembilan pagi menunggu panggilan untuk diwawancara. Lapar adalah tambahannya. Mengeluh karena terbayang, setelah selesai wawancara tidak bisa membeli apa pun, semangkuk bakso sekalipun. Uangnya tinggal ongkos angkot dan ojek.

Pelamar tinggal dua orang di ruang tunggu. Mungkin Ika giliran dipanggil terakhir. Ah, tapi Ika sudah pasrah. Tanggung bila mengundurkan diri dan pulang. Rasanya tidak akan beda dari hasil lamaran yang kemarin yang minggu lalu yang bulan lalu. Perusahaan banyaknya mencari karyawan yang pengalaman atau yang bergelar sarjana. Mau pengalaman bagaimana, Ika baru lima bulan lalu lulus dari SMK?

Sejak lulus Ika rajin memasukkan lamaran ke setiap perusahaan yang mengumumkan mencari karyawan. Beberapa perusahaan memanggilnya, tapi setelah wawancara tidak ada yang memanggilnya lagi. Ada juga satpam yang berbisik waktu melamar ke sebuah pabrik tekstil. Bila ingin diterima sebenarnya gampang, asal ada buat pelicinnya, lima juta saja, katanya.

Ika tersenyum mendengarnya. Satpam itu tidak tahu, bagi Ika untuk ongkos dan fotokopi segala persyaratan saja tidaklah gampang. Lagipula, bila punya uang pun cara seperti itu pasti dilewatinya. Sejak kecil Umi mengajarkan untuk jujur, sabar, dan bekerja keras. Buat apa bekerja dengan jalan tidak jujur? Lelah dan putus asa tentu saja pernah.

Melamar dan wawancara sudah tidak terhitung seringnya. Suatu hari Ika bilang ke Umi: Mi, Ika kan dari kelas satu SD sudah biasa berkeliling perumahan berjualan gorengan. Bila susah mencari pekerjaan, sudah saja Ika berjualan lagi membantu Umi.

“Hus, jangan bilang begitu. Jangan putus harapan. Belum rejekinya saja bila masih belum dipanggil, kata Umi. Kamu itu lulus sekolah. Sayang bila tidak merasakan bekerja.

Kumpulkan dulu modal. Usaha itu harus punya modal. Bila sudah menyerap ilmu di perusahaan, bila sudah punya bekal, tidak masalah berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri.

Ucapan Umi itu yang menjadikan Ika kuat menghadapi kesalnya melamar dan wawancara. Tapi, harus diakui, nasihat Umi tadi sempat kurang mujarab. Ika berpikir untuk pulang saja. Apotek Asri itu perusahaan besar untuk ukuran kota kabupaten, cabangnya ada di tiap kota. Pantas bila pelamar yang datang begitu banyak. Padahal, hanya seorang yang dicari. Tapi, sebelum pulang, hujan turun lebat. Di langit kilat berkelap-kelip, lalu petir berbunyi. Ika ingat nasihat Umi, harus sabar, jangan putus harapan. Kita tidak pernah tahu rejeki itu adanya di mana. Bila berdagang, Umi selalu menganjurkan untuk berkeliling sampai gang terakhir.

*****

“Ika Kartika,” kata seorang ibu yang dari tadi memanggil pelamar.

Ika berdiri, lalu masuk ke ruangan wawancara. Ika mengangguk dan tersenyum kepada seorang bapak yang setelah menyuruh duduk malah menatapnya. Ika tentu saja salah tingkah. Dia menunduk. Beberapa lama bapak itu tidak juga bicara. Waktu Ika mengangkat lagi wajahnya, mengangguk dan tersenyum, si bapak membalas senyumnya.

“Masih ingat saya?” kata bapak itu kemudian.

Ika terkejut. Dia mencoba mengingat sambil menatap si bapak. Masih muda usianya, mungkin hanya terpaut tiga-empat tahun dengan Ika. Terlalu muda sebenarnya untuk seorang manajer.

“Ingat?” katanya lagi.

Ika menggeleng sambil tersenyum.

“Waktu kecil saya pernah kehujanan di perumahan Ciboled Endah, di bawah pohon kersen.”

Ingatan Ika melayang ke belasan tahun yang lalu. Hujan lebat seperti tadi. Umi meminta Ika dan Teh Ela berjualan.

“Hujan Umi,” kata Ika waktu itu.

“Terpaksa, sayang. Bila tidak keliling, modal kita ada di dagangan.”

Ika ingin protes lagi, tapi Teh Ela menuntunnya. Waktu itu Ika melihat Umi menangis meski sudah berusaha menahannya dengan mengusap air matanya yang berjatuhan. Sementara, Ade dan Emput, adik-adik Ika yang belum sekolah, memandang kedua kakaknya dari pintu. Ika dan Teh Ela berpayung berkeliling perumahan sambil berteriak. Baru dua gang yang terlewati hujan mulai mereda. Tapi, yang membeli gorengan tidak seperti hari-hari biasa. Dagangan masih menumpuk.

Waktu itu Ika sudah kelas satu SD, Teh Ela kelas empat. Setelah Abah meninggal, Umi berjualan gorengan setiap pagi dan sore. Pagi-pagi Umi yang berkeliling. Tapi, sore biasanya Ika dan Teh Ela.

Ghuuu peddaass… bala-bala… kupat… lapis…, kata Ika.

Gehuuu peddaass… bala-bala… kupat…lapis…, kata Teh Ela.

Gang kesepuluh sudah terlewat, tapi yang membeli hanya seorang dua orang. Di belokan ke gang kesebelas, mereka berhenti. Bukan, bukan karena ada pembeli. Tapi, melihat seorang anak lelaki, kira-kira seumur Teh Ela, menggigil kedinginan di bawah pohon kersen. Entah siapa, Ika dan Teh Ela tidak mengenalnya.

“Teh, mengapa anak itu?” kata Ika.

“Sepertinya kedinginan.”

“Lapar mungkin ya.”

“Mungkin juga,” kata Teh Ela sambil menghampiri anak yang berjongkok menggigil itu.

“Mau ke mana, Teh? Kita pulang saja.”

Tapi Teh Ela tidak menghiraukan.

“Mengapa berteduh di sini?” kata Teh Ela. “Rumahnya jauh?”

“Jauh. Malu ikut berteduh di rumah orang,” kata anak lelaki itu sambil tersenyum malu.

Teh Ela memasukkan gehu, bala-bala, dan kupat ke dalam pelastik.

“Ini makan, biar tidak menggigil,” kata Teh Ela memberikan plastik.

“Tidak punya uang.”

“Tidak apa, ini mah ngasih.”

Anak lelaki itu menerima plastik sambil menunduk. “Terima kasih,” katanya pelan.

Gang keduabelas hampir terlewati, tapi yang membeli tidak juga bertambah.

“Teh, kita pulang saja. Jualan waktu hujan ternyata tidak laku,” kata Ika.

“Hus, kita tidak pernah tahu rejeki itu adanya di mana. Tanggung hanya satu gang lagi.”

Ika tersenyum. Pikirnya, Teh Ela sudah seperti Umi. Harus sabar, jujur, dan jangan putus harapan. Begitu biasanya Umi menasihati. Padahal, Umi sendiri bila bersedih, ya menangis seperti tadi.

Ika terpana di gang ketigabelas, gang terakhir, ada yang memanggilnya. Seorang ibu berbincang dengan suaminya tentang oleh-oleh ke acara saudaranya waktu Ika dan Teh Ela menghampirinya. Kata suaminya, borong saja gorengan karena tidak akan ada kesempatan lagi beli yang lain di pinggir jalan. Ika dan Teh Ela bersorak waktu pulang dengan wadah yang kosong. Hujan waktu itu tinggal gerimis.

“Ingat kan sekarang?” kata si bapak lagi. Saya yang berteduh menggigil kedinginan di bawah pohon kersen itu.

“Ika mengangguk sambil tersenyum. Dia kadang mencuri pandang sambil mengingat. Wajahnya memang seperti anak yang dulu itu. Tapi, anak itu kurus, hitam dan kotor. Sementara, si bapak selain bersih, berkemeja dan berdasi, juga badannya lebih berisi.

“Dulu itu saya memang lapar. Dari pagi belum makan, main di sawah, waktu pulang hujan lebat. Tapi, tidak lama setelah peristiwa itu ibu saya pindah. Jadi saya tidak sempat mengucapkan terima kasih. Tapi saya selalu ingat. Sekarang saja saya bilang ke Ika, terima kasih….”

Ika terkejut. Dia tersenyum dan mengangguk sebenarnya sambil menunggu pertanyaan tentang pekerjaan. Tapi ternyata si bapak malah panjang membahas masa kecil, masa sekitar sebelas tahun lalu. Bertanya tentang Teh Ela yang sekarang sudah berumah tangga, mempunyai seorang anak, dan tinggal di Bandung. Titip salam dan titip terima kasih buat Teh Ela. Bertanya juga sebelah mana rumah Ika di perumahan itu.

Tapi sampai azan zhuhur berkumandang tidak satu kata pun pertanyaan tentang pekerjaan. Selanjutnya, bukan menyuruh pulang, tapi malah mengajak keluar. Si ibu yang memanggil pelamar saja memandang heran. “Ini masih saudara,” kata si bapak sambil tersenyum.

*****

Makan di gubuk lesehan di rumah makan Saung Nini. Sambil menunggu pesanan, shalat dulu di mushala. Ika terpana memandang makanan yang berjajar di hadapannya.

Ayam goreng, pepes jamur, pepes belut, sayur asem, minumnya jus strowberi. Laparnya tiba-tiba begitu menggila.

“Silakan dimakan. Ini sekadar ucapan terima kasih. Akang selalu ingat peristiwa itu.

Waktu itu selain lapar, kedinginan, juga demam. Tidak sekolah tiga hari. Tapi, Akang merasa bahagia, pernah bertemu dengan Ika dan Teh Ela yang baik.”

Selanjutnya makanan yang terhidang itu diserbu.

Namanya Adri. Kang Adri, begitu dia ingin dipanggil. Baru tiga tahun katanya bekerja di Apotek Asri. Sama lulusan dari SMK. Tapi dipercaya oleh majikannya. Terkejut juga waktu diminta majikannya mengelola apotek baru. Luas sebenarnya tanah apotek itu. Tapi baru depannya saja yang dibangun. Katanya, ke depannya rencana dibuka praktik dokter. Selesai makan, Ika memberanikan diri bertanya mengenai lamarannya.

“Maaf, Kang, saya ingin tahu mengenai lamaran saya,” kata Ika malu-malu.

“Hari Senin sudah bisa memulai bekerja. Akang wawancara itu hanya mencari karyawan yang jujur, mau belajar dan bekerja keras. Khusus untuk Ika, Akang sudah percaya sejak dulu.”

Tentu saja Ika bahagia. Tapi waktu pulang naik angkot, dia termenung. Sungguh aneh hidup ini. Peristiwa dulu, peristiwa sepele sebelas tahun lalu, peristiwa masa kecil, bisa menolong gelisah dan putus asa masa dewasa. Yang terbayang hanya kata-kata Umi yang suka ditiru Teh Ela: “Bila kita baik ke orang lain, artinya bukan sekadar baik ke orang lain, tapi yang utama sebenarnya baik ke diri kita sendiri.”

Terima kasih Umi, Teh Ela, gumam Ika sambil mengusap matanya yang terasa panas.


Pelangi Pagi hobi menulis sejak SD. Namun, baru beberapa tahun belakangan ini berani mengirimkan karyanya (cerpen, puisi, cerita anak) ke media massa. Belajar dari buku- buku dan ceramah para pengarang. Di antara karyanya sudah dimuat di Indo Pos, Solo Pos, Suara Karya, Nova, Pikiran Rakyat, Banjarmasin Pos, Jembia, dan sebagainya.

Pembicaraan Keluarga | Cerpen Rifat Khan


Aku ikut duduk malam itu, hujan baru saja reda, suara jangkrik di luar sana terdengar jelas di telinga. Di ruang itu, kakek masih duduk sedikit menunduk, paman Ibrahim sesekali mengelus jenggot di dagunya, dan bapak masih saja duduk dengan putaran tasbih di tangannya. Ibu dan adikku datang membawa beberapa gelas teh.

Ada pembicaraan panjang malam ini, ada sesuatu yang mesti disepakati dan mesti dirampungkan. Selepas gelas-gelas teh itu dibagi ke semua yang ada di lingkaran itu, Ibu ikut duduk dengan tenang di samping bapak. Adikku berjalan masuk membawa nampan yang sudah kosong. Kakek mulai membuka suara. Suaranya begitu berat dan sedikit tegas meski sesekali batuk-batukan.

“Mereka semalam meminta Rp 60 juta. Tak hanya itu, mereka juga minta ditambah satu ekor sapi.” Kakek batuk dua kali. Tatapannya bergiliran ke arah paman Ibrahim dan bapak.

Semalam, kakek bersama paman Malik, adiknya bapak yang paling kecil di bawah paman Ibrahim, memang datang nyelabar ke Desa Sakra. Tapi, semalam memang belum ada kata sepakat antara kedua keluarga. Mereka pulang dengan tatapan hampa. Dan malam ini, apa yang mereka bicarakan semalam harus dituntaskan.

Sebab, jika nanti mereka akan balik untuk nyelabar kedua kali, semua harus sudah kelar. Meski paman Malik tak bisa ikut berkumpul malam ini sebab ia harus ke Pademare menjenguk mertuanya yang tengah sakit, kesepakatan harga mesti diputuskan, untuk nanti dibawa dan ditawarkan ke pihak keluarga Ratmi, perempuan yang akan dipinangkan untukku.

“Mereka keterlaluan, mereka pikir kita orang kaya apa?” Paman Ibrahim bicara dengan nada keras. Ada raut emosi terlihat di wajahnya, memang demikian sifatnya selama ini. Waktu anaknya Si Udin ketahuan merokok kelas VI SD dulu. Paman Ibrahim marah habis-habisan dan menendang anaknya itu tiga kali.

“Kamu tenang, pakai otak dan hatimu. Jangan kamu cepat emosi. Kakek memandang paman Ibrahim dengan tajam. Paman Ibrahim menunduk sesaat. Ia menghela napas begitu panjang.”

“Bagaimana menurutmu?” Kakek mengarahkan pandangan ke bapak yang masih saja khusuk dengan putaran tasbih di tangannya. Bapak sedikit terkejut dan memandang kakek.

“Begini, Pak, saya semalam memikirkan ini. Sungguh, Bapak tau sendiri kalau panen kita gagal lagi. Uang tabungan benar-benar hanya ada seperempat saja dari yang mereka minta.” Bapak dengan suara pelan menjelaskan kepada kakek.

Aku masih diam saja, memang tak ada hak untukku bicara malam ini, hanya orang tua yang berhak angkat bicara. Semula aku tak ingin ada di sini, aku ingin di kamar saja. Tapi, maghrib tadi Ibu meminta agar aku ikut sebagai pendengar. Memang, permintaan keluarga Ratmi terlalu besar menurutku. Kami tak punya uang sebanyak itu, apalagi mesti ditambah seekor sapi. Aku memandang mereka bergiliran: paman, bapak, dan kakek. Semua seperti dirundung beban yang berat. Kakek lebih sering batuk, paman lebih sering terlihat menggerak-gerakkan giginya hingga suara gigi yang bersentuhan itu bisa terdengar. Bapak, selain masih memutar tasbih, sesekali ia menggaruk keningnya.

“Bapak, pernikahan harus terlaksana. Kabar ini secepat itu sudah sampai ke kerabat dan keluarga jauh. Akan malu kita kalau sampai gara-gara uang, terus Alif batal kawin. Apa yang akan orang-orang bilang. Alif dan kita akan menanggung malu seumur hidup.” Ibu bicara sembari memandang kakek dengan tatapan sendu. Mata itu seperti setengahnya sudah basah.

“Terus, maksudmu kalau mereka minta sebesar itu kita harus penuhi. Jika perlu, sampai menjual rumah ini! Malu juga hanya sebentar Mbak Minah. Ketimbang selamanya kau akan menyesal, selamanya kau akan menanggung utang. Kalaupun kita jadikan sertifikat rumah ini jadi jaminan bank.” Paman Ibrahim menimpali ucapan Ibu dengan emosi. Wajahnya terlihat sudah memerah. Bapak mencoba menenangkannya.

“Ibrahim, itu sebabnya kita berkumpul. Jangan cepat menyimpulkan begitu. Banyak otak, akan banyak strategi dan cara yang kita temukan nantinya.”

“Ibrahim, kamu jangan emosi. Berkali- kali saya bilang, emosi tak akan menemukan solusi apa-apa. Mari bicara dulu dengan tenang.” Kakek menambahkan. Matanya semakin tajam menatap paman Ibrahim.

“Maaf, maaf semuanya. Tapi, ini terlalu besar. Apakah tak bisa kita mencoba menawar, mencari jalan tengah yang tak memberatkan siapa-siapa.” Paman Ibrahim mencoba bicara sedikit pelan. Matanya terus saja bergantian menatap bapak dan kakek.

“Semalam aku dan Malik mencoba menawar. Kami terus menawar dengan harga yang kita mampu. Tapi, keluarga perempuan itu mulai membahas tentang bibit bebet bobot-nya. Mereka terus menceritakan gelar bangsawan yang mereka punya. Dan menurut mereka, harga itulah yang paling pantas. Jika kita menawar rendah dan mereka menyepakati, mereka bilang kalau mereka akan malu. Harga diri mereka akan jatuh. Dan akan menjadi omongan bulan-bulanan orang sekampung. Itu sebabnya, kami minta balik dulu untuk berunding kembali. Kakek menjelaskan dengan pelan dan tempo bicaranya sedikit lambat.”

“Memang apa gelar si Ratmi itu?” Paman Ibrahim bertanya.

“Dia bergelar Baiq, kau tahu sendiri kan bagaimana mereka? Mereka merasa turunan bangsawan. Mereka merasa kasta mereka di atas kita. Mereka semena-mena menentukan harga pinangan. Mereka tak peduli kalau keluarga si lelaki tak mampu memenuhi permintaan itu. Malah mereka mulai menjelaskan pekerjaan si Ratmi yang sebentar lagi akan diangkat jadi guru PNS. Kalau kita tidak bergerak cepat dan si Ratmi sudah jadi PNS, malah harganya akan di atas Rp 100 juta dan itu akan semakin berat.” Kakek kembali menjelaskan.

Aku termenung mendengar ucapan kakek. Permintaanku untuk menikahi Ratmi benar-benar tak pernah terpikir akan menjadi beban bagi mereka. Kami saling mencintai dan memutuskan menikah. Tapi, keluarga besar Ratmi selalu saja menengok sejarah, selalu saja merasa turunan mereka turunan bangsawan, turunan berdarah biru. Ini tentang masalah harga, dan pernikahan di pulau ini akan selalu berkaitan dengan itu. Aku belum mengerti dan tak akan pernah bisa mengerti dan memahaminya.

“Menurut kakek solusi apa yang paling baik?” Tanya paman Ibrahim lagi.

“Solusi terbaik adalah mereka mesti menikah, apa pun caranya.” Dengan cepat Ibu menimpali.

“Diam dulu kamu, diam…!!!” Bapak menatap Ibu. Ada raut sedikit marah di wajahnya. Ibu menunduk dan seketika diam. Suasana terasa sedikit tegang.

“Bagaimana menurutmu?” Paman Ibrahim tiba-tiba bertanya padaku. Aku hanya diam tak tahu hendak mau bilang apa. Otakku tiba-tiba buntu malam itu.

“Begini, begini. Malam ini kita harus sepakati berapa harga yang akan kita bawa ke keluarga Ratmi saat datang nyelabar lagi besok malam. Ini harus tuntas.” Kakek bicara lagi mencoba mencairkan suasana, sesekali ia jeda bicara dan menghelas napasnya.

“Biar lebih singkat. Berapa uang yang saat ini ada dan sudah kamu siapkan?”

Kakek menatap bapak.

“Jujur, yang ada saat ini hanyalah Rp 15 juta. Ada Rp 1 juta lagi dalam bentuk gelang emas.” Bapak bicara dengan lambat tanpa melihat wajah kakek.

“Berarti yang ada sekarang Rp 16 juta dan saya akan menambahkan Rp 4 juta, hanya jumlah itu yang benar-benar saya punya. Totalnya berarti Rp 20 juta. Ditambah Malik semalam bilang kalau ia ada sekitar Rp 3 juta saja. Totalnya Rp 23 juta.” Kakek mencoba menotal uang yang memang sudah ada.

“Saya ada tabungan Rp 5 juta. Itu bisa dipakai.” Paman Ibrahim menambahkan.

“Berarti semuanya Rp 28 juta. Sedangkan, mereka meminta Rp 60 juta, berarti kita minus Rp 32 juta dan juga minus seekor sapi. Sapi sekitar Rp 9 jutaan harganya. Totalnya kita minus Rp 41 juta.” Kakek bergilir menatap paman Ibrahim, ibu, dan bapak.

Masih jauh sekali. Aku berucap sendiri dalam hati. Aku benar-benar tak ada tabungan untuk saat-saat ini. Aku bisa saja membatalkan semuanya, tapi Ibu akan merasa malu dan tak tau mau menjelaskan apa ke tetangga dan kerabatnya. Berita itu terlanjur menyebar.

Pembicaraan yang alot itu masih saja berlangsung. Akhirnya sebuah kesimpulan diambil, untuk memenuhi minus itu, bapak akan menggadaikan sertifikat rumah di bank. Setoran nanti bakal dicicil bapak dari hasil sawahnya. Ibu terlihat sedikit bahagia. Malam itu.

Pernikahan pun terjadi antara aku dan Ratmi. Kami menikah dan hidup berumah tangga.

*****

Kini, genap empat bulan sudah aku dan Ratmi hidup bersama. Dua bulan awal terasa sangat bahagia. Tapi, bulan berikutnya, bapak tak mampu lagi membayar setoran bank. Aku putuskan membantu bapak membayar cicilan itu dari hasil kios kecil-kecilan yang tiga bulan terakhir ini menjadi usahaku. Akibatnya, uang belanja Ratmi harus dipangkas. Itu membuatnya sering ngambek, mulai sering membesar-besarkan masalah yang kecil. Banyak pertengkaran terjadi dan selalu berujung tak saling tegur berhari-hari.

Kuceritakan semua pembicaraan keluarga itu ke Ratmi, pembicaraan saat hendak meminangnya. Saat keluargaku berunding alot dan sampai meminjam untuk melangsungkan pernikahan kami. Tapi, Ratmi tak peduli. Ia sungguh tak peduli.

“Ceraikan aku. Antar aku pulang ke rumah ibuku!!!” Kata itu terlontar dengan jelas dari mulutnya pada sebuah sore yang basah. Sangat jelas terdengar di telingaku.Wajah Ratmi memerah. Segala nasihat dan penjelasanku tak mampu lagi membendung keinginannya itu. Dadaku seperti disambar gemuruh yang hebat.

“Ceraikan aku. Antar aku ke rumah ibuku!!!” Ia terus berteriak—berkali-kali.

2017

Kosakata:

– Nyelabar: istilah Sasak, artinya keluarga lelaki datang melamar ke keluarga perempuan; membicarakan harga dan mahar.

– Baiq: gelar bangsawan perempuan Sasak.

RIFAT KHAN, Lahir di Pancor NTB pada 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat di media lokal dan nasional. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

Jendela Tua | Cerpen Iyut Fitra


Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan.

Sebuah jam lama di tonggak rumah gadang menunjukkan pukul delapan malam. Ibu tua itu baru saja selesai berdoa setelah sholat isya. Dengan sedikit tertatih ia berjalan menuju almanak yang tergantung di dinding. Setelah mengamati angka demi angka dalam almanak tersebut, perhatiannya beralih pada sebuah foto keluarga dengan bingkai yang lumayan besar di sisi dinding yang lain.

Ibu tua itu mengamati satu persatu foto yang terpampang tersebut. Suaminya. Dan lima orang anaknya. Tiga laki-laki dan dua orang perempuan. Entah mengapa, mereka sama-sama tersenyum saat berfoto. Ibu tua menghela nafas panjang.

”Kesunyian juga akhirnya yang menetaskan rindu. Suara anak-anak. Canda keluarga. Barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara. Adakah kesendirian dapat melunasi semua itu?” ibu tua itu bergumam sendiri, lalu berjalan menuju kursi kayu untuk memulai aktivitasnya tiap malam, menjahit. Merenda kain pintu atau taplak meja sebagai perintang waktu sebelum larut mengirimkan kantuk. Sebelum ia benar-benar jenuh dengan rangkak malam yang akhir-akhir ini ia rasa bergerak sangat lamban.

Usianya sudah enam puluh lima tahun. Meski wajahnya masih mencerminkan ketegaran, tapi semua itu tidak mampu menghadang tiap lembar rambutnya yang memutih serta kulitnya yang keriput. Semenjak ketiga anaknya yang laki-laki beristri, dan kedua anaknya yang perempuan bersuami dan memilih menetap di rantau, serta semenjak suaminya meninggal, rumah gadang itu mulai sunyi. Hanya Upik, seorang anak perempuan tetangga yang masih kelas enam SD yang menemani kehidupannya menjalani hari-hari. Tak banyak kesulitan memang dalam hidupnya. Selain harta dan tanah pusaka yang banyak menghasilkan seperti kelapa, padi, jagung dan sebagainya, anak-anaknya pun tidak pernah absen untuk mengirimkan uang tiap bulan. Tapi kesunyian dengan apa harus dibayarnya?

”Apa yang dapat dimaknai dari rumah gadang kebesaran. Lengkung luas kelapangan. Tanah, sawah, dan tanaman yang berlimpah. Sementara sekeping jiwa larut dalam lengang…,” sering ia keluhkan itu. Sering perasaan itu mendatangi dan mengganggu ketenangan malam-malamnya.

Tiap hari dilalui oleh ibu tua seolah-olah waktu tak ada guna. Bangun pagi-pagi. Setelah sholat subuh dia mulai memasak. Lalu membersihkan rumah. Lalu mencabut-cabut rumput. Lalu menunggu Upik pulang sekolah. Lalu makan. Lalu menjahit. Lalu tidur. Lalu…

Sering ia tersenyum sendiri apabila mendengar lantunan tape dari rumah tetangga dengan lirik pantun Minang yang menggelitik: Kalaupun ada batang cumanak. Daunnya banyak yang muda. Kalaupun ada banyak dunsanak. Tapi tak ada tempat beriya. Ya, mereka semua jauh. Rantau lebih memikat mereka ketimbang dusun yang lengang. Gegas kota lebih membuat hidup terasa berdenyut dibanding lengking bangsi yang merusuh hati. Ibu tua tak sanggup memaksa mereka untuk pulang, untuk menetap di kampung. Apalagi semua anaknya telah memiliki rumah sendiri di rantau. Memiliki keluarga sendiri.

”Mungkin ini yang ibu-ibu lupa. Yang kita lupa. Bahwa suatu saat suami pasti pergi. Anak-anak pergi. Dan kita kembali sendiri!” gumam ibu tua itu kembali tersenyum sendiri.

Di jendela, ibu tua menatap jauh ke halaman. Anak-anak bermain lumpur, berlempar-lemparan. Ada yang berkejar layang-layang putus. Di ujungnya, gunung Sago terhampar jelas. Waktu itu pun menyergapnya. Sesuatu yang bernama kenangan. Lembar-lembar di satu kurun yang disebut lampau. Ketika ia mengajak anak-anaknya ke sawah. Berjalan di pematang. Mengantarkan kawa (makanan dan minuman) untuk petani-petani yang mengerjakan sawahnya. Seraya tertawa-tawa mereka akan berebutan menangkap capung-capung merah dan belalang. Mereka bermain ke sungai. Mandi-mandi. Lalu makan bersama-sama dengan para petani. Dengan samba lado dan ikan asin yang dibuatnya di rumah. Lalu mereka pulang setelah senja. Setelah pelangi melengkungi hamparan sawah luas yang menguning. Ah, kenangan!

Ibu tua meninggalkan jendela itu. Ia kembali menuju almanak. Matanya tak lepas-lepas dari angka-angka tersebut seolah-olah ada satu harapan yang ingin digenggamnya. Sebentar lagi lebaran. Anak-anaknya akan pulang. Dan tentu bersama suami dan istri mereka serta cucu-cucunya. Kesunyiannya akan pecah. Gumpal lengang yang selama ini menyesak dada akan mencair dan mengalir. Ia harus bersiap untuk menyambut mereka. Ibu tua tersenyum puas. Sangat lepas.

”Upik, seminggu lagi mereka pulang. Tolong peram pisang yang ditebang kemaren. Etek Suni paling suka kolak dicampur lemang!”

”Jangan lupa minta jagung pada Pak Simuh. Pak Adang Kalun pasti minta jagung bakar!”

”Kita nanti akan buat samba lado tanak buat Etek Eti!”

”Oya, Upik. Juga pangek ikan buat Pak Etek Rustam!”

”Pical buat Pak Angah!”

Upik kadang bingung. Kadang ucapan-ucapan ibu tua sudah seperti orang meracau. Tapi bocah kecil itu mencoba memahami dengan usianya sendiri, betapa menggunungnya rindu yang menggumpal di diri ibu tua. Dengan patuh ia siapkan apa yang diminta oleh ibu tua.

Sementara sang ibu tua, segala sesuatu terhadap tingkah dan lakunya terlihat berlebihan. Beras yang masih ada di tambah. Takut nanti tidak cukup, katanya. Setiap hari ia bersihkan rumah. Debu-debu. Kain pintu ditukar dengan yang baru. Begitu juga dengan gorden dan taplak meja. Halaman dan perkarangan diupahkan untuk membersihkannya. Pagar rumah dicat. Ibu tua terlihat riang dan girang. Sebentar-sebentar ia melihat almanak. Sebentar-sebentar ia tersenyum. Sebentar-sebentar ia beralih melihat foto keluarga. Foto di mana mereka semua sedang tersenyum.

”Sunyi akan pecah dari rumah ini!” ucapnya seakan-akan baru saja memenangkan sebuah pertarungan panjang. Itu terlihat dari wajah keriputnya yang menjelma berseri-seri penuh kesenangan.

Jendela rumah gadang. Sebuah bingkai tempat menatap hari dan waktu. Keramain dan kesunyian. Keindahan dan kepahitan. Segala yang bernama masa lampau, hari ini, maupun jelang esok, akan tergambar sebagai sebuah potret. Refleksi dari sebuah perjalanan yang dititahkan oleh Tuhan. Dan setiap pergulirannya akan menjelma menjadi gambar kehidupan.

Tapi ibu tua mungkin lupa dengan gerak yang bernama perubahan. Ketika anak-anak, menantu dan cucu-cucu yang ditunggu-tunggunya pulang, ia sama sekali tidak melihat sunyi yang pecah. Tidak menyaksikan lengang yang cair. Tak ada yang mengalir ke muara. Hanya diam yang kejam. Justru yang ditemukannya adalah sebuah siksaan baru yang bernama keasingan.

Ia tidak mengerti lagi dengan bahasa anak-anaknya yang telah jauh bertukar. Dengan ucapan-ucapan mereka yang terdengar aneh. Kadang terdengar keras dan tidak sopan. Sikap dan tingkah laku mereka terlihat sangat berjauhan dengan kebiasaan orang-orang di kampung. Mereka telah mengusung kota ke rumah gadang ibu tua. Jantung ibu tua tertusuk. Pedih. Sangat pedih. Ia merasa rindunya telah menghantam kepalanya. Ia ingin menangis. Apalagi ketika mereka lebih memilih makan ke restoran ketimbang mencicipi masakan yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan ibu tua. Ia merasa dirinya limbung dan segera akan rubuh. Matanya berkunang-kunang. Panas.

Di jendela, sehari setelah anak-anak, menantu dan cucunya kembali ke kota, ibu tua tertegun menatap jauh ke halaman. Di belakangnya Upik diam tak berkata-kata. Dendang dari tape tetangga tak terasa mengiringi tetes tangis ibu tua yang titik menimpa selendang usangnya: Kalau dipikir-pikir benar. Luka hati jika tambah parah. Rendahlah ngarai dipandangi. Sebab selarut selama ini. Kalian tau apa yang membuat sedih. Dikira kalian datang mengobati. Berharap luka kan sembuh. Mengapa asam kalian siramkan. Tak ada lagi yang sesakit ini. Bila tak ingat Tuhan. Tentu lebih baik memilih mati.

Ibu tua mencoba tersenyum mendengar dendang tersebut. Dihapusnya airmata. Lalu menatap ke arah Upik.

”Upik, ketuaan adalah kesunyian. Serupa usia. Atau mungkin waktu yang juga sudah tua. Pada akhirnya kita memang tak akan dapat mengelak dari kesendirian. Rindu hanyalah sebatas keinginan. Apa pun selebihnya adalah milik Tuhan!” ucap ibu tua itu. Lalu menutup jendela. Dan senja pun turun di kampung itu.

Payakumbuh, September 2008

Orang yang Tak Bisa Berbohong | Cerpen Mardi Luhung


Siapa pun tahu, Dia tak bisa berbohong. Apa yang diomongkan selalu benar. Dan selalu tepat pada sasaran. Mangkanya, di kampung, jika ada persoalan penting dan membutuhkan orang yang tak bisa berbohong, maka orang-orang selalu menunjuk Dia. Dan menyatakan: “Dalam sejarah kampung, kita beruntung mempunyai warga seperti Dia. Sehingga, kebenaran selalu dapat terjaga. Kebenaran, yang bagi orang lain sulit untuk diomongkan, tapi bagi Dia selalu saja dapat diomongkan.” Tapi, kini, orang-orang di kampung mencuekkan dia. Dia ada atau tak ada, tak ada yang peduli. Jadi, semacam pepatah: “Datang tanpa muka, pergi tanpa punggung,” itulah Dia. Dia yang mungkin lebih banyak hidup dan bergerak sendirian. Dia yang ketika berjumpa dengan orang-orang, lebih banyak dijauhi. Dan lebih banyak seperti angin. Terasa tapi tak terjamah.

Kenapa orang-orang memperlakukan Dia seperti itu? Itu ada kisahnya. Begini: dulu ada peristiwa yang menggemparkan, yang terjadi di kampung, tentang uang yang hilang. Uang itu milik pak Zain. Uang hasil penjualan tiga ekor sapinya. Lalu orang-orang mencarinya. Dan pencarian itu pun mengerucut pada diri Gondo. Pemuda kampung yang luntang-lantung. Yang ketika ditangkap, sedang termenung di bawah pohon trembesi. Dari kantong tas kresek Gondo, orang-orang menemukan sejumlah uang. Jumlah uang itu demikian banyak. Yang tak mungkinlah dipunyai Gondo yang luntang-lantung itu.

“Kau pencurinya?”

“Pencuri apa?”

“Pencuri uang pak Zain!”

“Tidak. Aku bukan pencuri!”

“Lalu, darimana kau dapatkan uang sebanyak ini?”

“Aku menemukan di jalan.”

“Jalan mana?”

Sayangnya, Gondo lupa di jalan mana menemukan uang itu. Sehingga hanya bisa menjawab: “Mungkin, mungkin, dan mungkin. Ya, mungkin di jalan ini, mungkin di jalan itu, juga mungkin di jalan ini dan itu.” Akibatnya, orang-orang jadi marah. Merangsek. Dan ingin menghakimi.

“Kita hajar saja dia!”

“Dia berlagak bego!”

“Ini sudah jelas. Dia pencurinya!”

“Kita tanyai pelan-pelan!”

“Tapi dia sudah mempermainkan kita!”

“Hajar dulu saja!”

Tepat ketika suasana menaik. Suasana ketika orang-orang akan bertindak, tiba-tiba Dia muncul. Dan entah kenapa, orang-orang jadi menenang. Dan suasana yang semula panas jadi mendingin. Lalu ada seseorang yang berkata: “Hei, orang yang tak pernah berbohong, katakan, apa benar Gondo yang mencuri uang pak Zein?”

“Katakan, ayo, katakan!”

Dia pun menghampiri Gondo. Berbisik. Gondo pun menjawab dengan bisik. “Gondo memang menemukan uang itu di salah-satu jalan yang mengarah ke luar kampung. Tapi Gondo lupa itu jalan yang mana. Sebab saat itu malam hari,” begitu kata Dia setelah saling berbisik dengan Gondo.

“Itu tak mungkin!” sahut seseorang.

“Dia kok jadi begini,” sahut yang lain.

“Dia sudah mulai berubah!”

“Masak, menemukan uang kok lupa tempat di mana menemukannya.”

Dia tersenyum. Lalu menambah: “Cobalah kalian pikir, kenapa Gondo lupa di jalan mana uang itu ditemukannnya. Sebab, semua jalan yang mengarah ke luar kampung, terutama malam hari sama. Gelap, rusak, dan tak ada tanda-tanda arah jalannya. Hayo siapa yang salah. Jika Gondo tak mengenali lagi di jalan mana uang itu ditemukannya?”

Orang-orang tercekat.

“Jadi, daripada ribut, ambil saja uang yang ada di tas kresek Gondo. Lalu segera kita perbaiki jalan-jalan yang rusak itu.”

Orang-orang saling berpandangan. Dan meski di hati mereka masih tak terima, tapi apa mau dikata. Omongan yang baru saja mereka dengar itu benar adanya. Dan memang, sudah seringkali, mereka sendiri mengeluh atas kondisi jalan-jalan yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung-kampung yang lain. Bahkan, pernah terjadi, ada orang dari luar kampung yang ingin memasuki kampung mereka di malam hari, tapi tak sampai-sampai. Jadinya, bagi orang dari luar kampung, hanya berani mendatangi kampung mereka di siang hari. Sedangkan, bagi mereka sendiri (orang kampung itu) pun enggan untuk bepergian ke luar kampung di malam hari. Di samping mereka sulit mendapat arah ke luar, juga merasa selalu saja kembali ke tempat semula. Dan atas hal ini, maka kampung mereka disebut sebagai Kampung Siang Hari.

“Benar juga.”

“Dia memang tak berbohong.”

“Jadi, ini semestinya urusan transportasi kampung.”

“Tapi, urusan transportasi kampung tak punya dana untuk itu.”

“Siapa yang mesti memberi dana?”

“Bendahara.”

“Aduh, seumur-umur yang ada, bendahara juga tak punya dana untuk itu.”

“Loh pak kepala kampung bagaimana?”

“Pak kepala kampung juga tak punya dana.”

“Jadi?”

Percakapan itu pun berhenti sampai di situ. Memang, selama ini mereka abai terhadap kondisi jalan-jalan yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung-kampung yang lain. Padahal, kampung mereka jauh berada di pelosok. Tak ada angkutan umum yang beroperasi. Sedangkan, untuk jalan kaki, dibutuhkan waktu kurang lebih tiga-hari dua-malam. Untuk naik motor minta ampun susahnya. Dan seminggu ke depan, semua penduduk kampung pun bergotong-royong memperbaiki jalan-jalan yang mengarah ke luar kampung itu. Tanda-tanda arah jalan diperjelas. Penerangan ditambahi. Dan atas usaha pak kepala kampung, mesin diesel pun didatangkan lagi. Dan menurut pak kepala kampung juga, sekian tahun ke depan, akan diusahakan, bagaimana jaringan listrik dapat merambah kampung mereka.

“Nah, kini kita mesti membikin rapat pembentukan panitia,” kata pak kepala kampung ketika urusan gotong-royong memperbaiki jalan-jalan selesai.

“Rapat pembentukan panitia?”

“Ya, rapat pembentukan panitia penerimaan jaringan listrik,” tandas pak kepala kampung.

“Dan untuk lebih baiknya, kita undang juga orang yang tak bisa berbohong itu,” sahut seseorang.

Maka, empat hari kemudian rapat panitia itu digelar di balai kampung. Rapat itu begitu meriah. Usulan-usulan pun dilontarkan. Lalu, setelah rapat hampir selesai, barulah Dia, orang yang tak bisa berbohong itu, dipersilakan memberikan masukannya.

“Saudara-saudara, selanjutnya, mari kita sambut orang yang tak bisa berbohong.”

“Akurrr!”

Dan Dia pun maju. Tatapannya biasa-biasa. Lagak-lagunya juga biasa-biasa. Tepat di podium, Dia ngomong begini: “Selamat atas terbentuknya panitia. Saya cuma berharap, kampung kita tetap aman-aman. Sebab, semakin kampung terang, nanti akan semakin banyak uang yang hilang.” Byar! Orang-orang yang mendengar pun ribut. Kasak-kusuk. Bahkan ada yang mulai gremang-gremeng. Tak percaya, jika Dia, yang dianggap tak bisa berbohong itu, akan ngomong seperti itu. Dengan kata lain, jika nanti kampung sudah terang, maka akan banyak uang yang hilang. Dan itu tentunya, akan banyak pencuri yang berseliweran. Mungkin-mungkin, salah-satunya adalah diri mereka sendiri yang dituduh pencuri. Gila!

“Ya, itu omongan gila.”

“Tak masuk akal!”

“Dia sudah meracau!”

“Kemarin Dia membela Gondo, karena jalan-jalan yang mengarah ke luar kampung gelap!”

“Kini, ketika mau diterangkan, malah memutar-balikkan fakta!”

“Sudah, jangan lagi dipercaya!”

“Turunkan Dia!”

“Turunkan cepat!”

Dan Dia pun diturunkan dengan paksa dari podium. Meski pak kepala kampung mencoba menengahi, tapi orang-orang sudah tak mau percaya. Seperti angin gunung yang gesit, Dia pun dihentakkan. Dia terjerembab. Tersungkur. Dan sejak itu, sejak panitia penerimaan jaringan listrik bekerja, Dia dilupakan. Rasanya, setiap orang yang ada di kampung, sudah tak mau lagi menerima keberadaannya. Dia ada atau tak ada, dianggap tak ada. Sampai listrik benar-benar merambah ke kampung. Sampai nama kampung mereka, Kampung Siang Hari diganti menjadi Kampung Terang Benderang.

Kampung yang mudah untuk didatangi kapan pun dan oleh siapa pun. Dan kampung, yang entah kenapa, mulai terlanda kabar, bahwa ada dari penduduknya (yang kebetulan duduk di jajaran panitia penerimaan listrik), telah menyalahgunakan sebagian dana yang ada. Akh, orang-orang pun kaget. Terus teringat pada omongan Dia, orang yang tak bisa berbohong itu, saat di podium dulu. Tapi sayangnya, rasa malu orang-orang telah begitu tebal. Sehingga, tetap saja mencuekkan Dia. Sampai kini.

Mardi Luhung: Lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Puisinya tersebar di sejumlah media.